Kegiatan Mengkhatamkan Al Qur’an Berjama’ah

Membaca Al Qur’an merupakan salah satu ibadah yang disyaratkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala hingga banyak yang berlomba-lomba dalam membacanya. Namun seringkali kita jumpai Khatmil Qur’an atau mengkhatamkan Al Qur’an dilakukan secara berjamaah. Biasanya setiap anggota dibagikan juz atau ayat tertentu yang harus dibaca.

Shalat Jum’at Di Masjid Yang Berdekatan Dengan Masjid Lainnya

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Shalat Jum’at biasanya dilakukan di dalam satu masjid besar sehingga masjid-masjid kecil itu dikosongkan. Karena pada dasarnya, Shalat Jum’at adalah shalat yang dilakukan oleh gabungan jama’ah. Namun yang terjadi sekarang ini, banyak sekali masjid yang melakukan Shalat Jum’at padahal jarak antar masjid berdekatan. Bagaimana sebenarnya Islam mengatur syariat ini?

Menampilkan Multimedia Dan Humor Pada Khutbah Jum’at Agar Menarik Perhatian Jama’ah

Khutbah Jum’at merupakan salah satu rukun dari Shalat Jum’at yang wajib diikuti oleh kaum muslim laki-laki. Namun seringkali khutbah ini terasa membosankan, bisa jadi hal ini karena isi khutbah yang hampir saja sama setiap minggunya atau cara penyampaian khatib yang kurang menarik perhatian. Tak jarang ada jama’ah yang kurang memperhatikan isi khutbah. Bahkan ada juga yang tertidur saat khutbah berlangsung.

Masih Jual Beli dan Santai Di Luar Area Masjid Menunggu Iqamah Shalat Jum’at

Shalat Jum’at merupakan kewajiban bagi para muslim laki-laki. Namun masih sering kita jumpai menjelang Shalat Jum’at, orang-orang masih tampak santai berada di lingkungan masjid. Pada saat adzan berkumandang, masih ada yang tampak menikmati makan siangnya bahkan saat khutbah dibacakan masih saja ada yang melakukan transaksi jual beli. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjelaskan dalam Al Qur’an:
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah: 9)
Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Apakah shalat jum’atnya tetap sah? Bagaimana pula dengan jual belinya? Apakah termasuk haram?

Hukum Membaca Surah Lain Setelah Surah Al Fatihah Di Semua Rakaat Shalat

Dalam shalat wajib, setelah membaca surah Al Fatihah pada rakaat pertama dan kedua, disunnahkan untuk membaca Al Qur’an surah-surah yang lainnya. Biasanya yang seringkali dibaca adalah surah-surah pendek. Namun ada fenomena yang terjadi, sebagian kaum muslim tetap membaca surah pendek tersebut pada rakaat ketiga dan keempatnya. Apakah ini disyariatkan dalam Islam? Bagaimanakah hukumnya?

Perilaku Munafik Yang Tanpa Kita Sadari

Perkara yang kita khawatirkan dan takutkan bukanlah hanya kesyirikan dan kekufuran tetapi sesungguhnya perkara yang juga kita khawatirkan dan takutkan adalah kemunafikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisaa’: 145)
Inilah yang menjadikan kita paham sesungguhnya kemunafikan itu persis berbanding lurus dengan kesyirikan dan kekufuran yang bisa mengekalkan pelakunya didalam neraka.

Makanya, sampai-sampai ketika kita memperhatikan di awal-awal surah Al Baqarah, Imam Ibnu Katsir menyampaikan sebuah faedah penting, sesungguhnya Allah di awal-awal surah Al Baqarah ketika menjelaskan tentang orang yang beriman, Allah itu menjelaskan hanya pada empat ayat, ketika Allah menjelaskan tentang orang kafir, Allah hanya menjelaskan pada dua ayat. Tetapi ketika Allah menerangkan tentang sifatnya orang munafik di awal surah Al Baqarah, Allah menerangkan hingga 13 ayat.

Porsi yang Allah sampaikan untuk menjelaskan orang munafik jauh lebih banyak daripada porsi ketika Allah menerangkan orang kafir. Disitulah kita paham bahwa kemunafikan inilah yang kita khawatirkan dan kita takutkan dalam kehidupan ketika menimpa dalam kehidupan kita.

Salah satu diantara kriteria khusus yang dimiliki oleh orang munafik yang terkadang kita tidak sadar memilikinya yaitu ketika kita beriman kepada Allah, konsekuensinya adalah kita harus memberikan kepatuhan tanpa syarat dan ketaatan tanpa tapi, artinya ketika kita sudah di hadapan syariat maka orang yang beriman bedanya dengan orang munafik: orang beriman memberikan kepatuhan total kepada Allah dan Rasul-Nya terhadap syariat yang ditetapkan melalui Kitabullah dan Sunnah, adapun orang munafik mereka memilih-milih apa yang cocok maka mereka pakai, apa yang tidak cocok maka mereka tinggalkan selayaknya memilih menu dalam prasmanan kalau cocok mereka akan makan, kalau tidak mereka tinggalkan.

Inilah perkara yang terkadang tidak disadari oleh banyak kaum muslimin bahwasanya perilaku memilih-milih syariat yang sesuai dengan seleranya akan diambil, yang tidak sesuai dengan selera keinginannya itu ditolak maka perilaku ini salah satu sifat dari munafik tanpa disadari oleh kita padahal kita harus sepakat untuk mengetahui apabila kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka kita harus memberikan kepatuhan tanpa syarat dan memberikan ketaatan tanpa tapi kepada setiap syariat yang ditetapkan oleh Allah.

Bisa dianalogikan sebagai berikut: Ketika kita berupaya untuk mendapatkan email maka kita akan mencari perusahaan penyedia layanan email yang cocok dengan apa yang kita mau, biasanya email itu akan memberikan syarat kalau kita ingin mendapatkan layanan email dari mereka. Ada syarat yang mereka sajikan itu begitu banyak kemudian di bawahnya ada dua tombol yakni tombol setuju dan tombol tidak setuju. Kalau setuju maka kita menyepakati semua aturan tersebut, barulah kita akan mendapatkan email. Kalau tidak, ada salah satu poin yang tidak kita kehendaki maka kita tidak akan pernah mendapatkannya.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa sesungguhnya kalau hanya mendapatkan email ternyata kita harus sepakat dengan semua persyaratan yang ditetapkan oleh perusahaan itu sebelum kita mendapatkan email, apalagi mendapatkan surga dan apalagi mendapatkan predikat beriman di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan inilah yang menjadikan kita sesungguhnya diantara perkara yang penting dalam kehidupan beriman, berikan kepatuhan tanpa syarat dan ketaatan tanpa tapi. Jangan suka memilih-milih syariat, yang senang diambil, yang tidak senang ditolak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang memilih syariat sebagaimana memilih menu makanan maka sesungguhnya itulah perilaku munafik tanpa sadar karena sesungguhnya syariat bukan pilihan tetapi syariat itu adalah konsekuensi keimanan mutlak kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pernikahan Karena Pengaruh Pelet

Demi mendapatkan wanita idaman, terkadang ada saja orang yang menempuh berbagai cara termasuk dengan datang ke orang pintar, meminta amalan tertentu atau jimat tertentu yang lebih populer dikenal dengan ilmu pelet kemudian digunakan untuk menaklukkan hati wanita yang menjadi incarannya meski memang ada yang tidak berhasil tapi juga banyak yang berhasil menaklukkan hati wanita hingga berlanjut ke jenjang pernikahan.